PALING KAYA PALING BAHAGIA

September 7, 2009

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalara Allah adalah serupa dengan sebutir-benih yang; menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatagandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,”  (QS. Al-baqaral [2]  261)

Kekayaan seseorang bisa dilihat dari apa yang dimilikinya, berapa luas tanah sawah atau perkebunannya, berapa harga rumahnya, berapa jumlah mobilnya, berapa lembar sahamnya, berapa banyak isi depositonya, atau berapa jumlah total kekayaan lainnya. Namun, itu semua adalah semu. Tidak hakiki. Bisa saja semua kekayaan itu tidak bisa dinikmati, atau bisa dinikmati tetapi sangat kecil, tidak seberapa dibandinghan jerih payah untuk mendapatkannya.

Lihatlah kekayaan orang dari apa yang bisa dinafkahkannya. Seberapa besar dari hartanya yang bisa dimanfaatkan. Coba renungkan wahai saudaraku, sesungguhnya harta yang benar-benar kita miliki dan bermanfaat bagi kita adalah harta yang telah kita nafkahkan pada jalan kemanfaatan hakiki, yaitu jalan Sang Pemilik, Sang Maha Kaya, Allah SWT. Sedangkan harta yang kita simpan dan hita gunakan untuk kesenangan yang semu, sekedar melewati hidup, menghabiskan umur, itu semua hilang, tak berbekas, tak berkesan, tak berarti, sia-sia tanpa kita bisa merasakan nikmatnya harta yang bermanfaat.

Bulan kemarin atau tahun kemarin mungkin kita mendapat beasiswa, atau keuntungan usaha yang besar, atau rejeki nomplok yang tak pernah terkira. Yang kita sangat bahagia menerimanya. Dan sekarang, kemanakah harta yang kemarin begitu kita tunggu kedatangannya? Bukankah sekarang kita telah lupa dengan kebahagiaan yang kita rasakan sewaktu menerima harta tersebut?

Saudaraku, jika sekian dari harta tersebut kita sedekahkan di jalan Alloh, maka sesungguhnya hanya itulah yang benar-benar harta kita yang bermanfaat. Kita sama dengan menabungnya, dan kelak akan kita ambil setelah jatuh tempo dengan bagi hasilnya sekalian.

Jangan dikira keuntungan menabung di akhirat itu kecil? Tidak ada model investasi yang lebih menguntungkan dari menabung untuk akhirat, yaitu hingga 700%. Seperti yang Alloh janjikan dalam firmannya di QS. Al-Baqarah : 261.

Adakah yang menandingi keuntungan instrumen investasi yang Alloh tetapkan di atas? Atau kita masih ragu dan enggan untuk mengambil kesempatan itu? Sebagai perbandingan; setelah turun ayat ini shahabat nabi berlomba untuk menginfakkan hartanya.

Abdurrahman bin Auf seketika menyambut turun ayat tersebut dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah”.

“Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang enkau berikan,” j awab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lain Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan. dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Bukan yang banyak harta, atau si kaya saja berlomba untuk menafkahkan harta mereka, tapi yang pas-pasan pun tidak mau kalah dengan dengan menafkahkan sesuai kemampuannya.

Saudaraku, jangan kira kita kehilangan apa yang telah kita nafkahkan di jalan Alloh. Alloh ber berjanji dalam firmannya, “‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan mnyempitkan bagi siapa yang dikeendaki-Nya. Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”  (QS 34: 39).

Masihkah kita ragu untuk investasi pada instrumen yang  paling menguntungkan? Saudaraku, Ramadhan sudah dekat kini, bulan penuh hikmah. Bulan dilipatgandakannya segala amal. Bulan penuh. keutamaan.

Diriwayatkan dalam Shahih AlBukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata :

“nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang paling dermawan, Beliau lebih dermawan pada bulan Ramdhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Quran. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditemui Jibrii lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan tambahan: ”Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya. ”

Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Rasulullah sha11a11ahu ‘alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta “. Dalam hadist yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama termasuk sebab masuk Surga. Dinyatakan dalam hadits Ali radhiallahu `anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh di Surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luamya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. ” Maka berdirilah kepada beliau seorang Arab Badui seraya berkata: Untuk siapakah ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah? jawab beliau: “Untuk siapa saja yarg berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur. ” (HR. At-Tirmidzi dan Abuu Isa berkata, hadits ini gharib).

Ajaran sedekah sungguh ajaran mulia, penuh keistimewaan, terlebih dam bulan ramadhan penuh hikmah. Namun, ajaran ini tidak pernah dibatasi olehh dimensi waktu. Sekali-kali ajaran ini tidak hanya untuk bulan ramadhan. Kita mafhum jika pada bulan ramadhan semangat untuk beramal meningkat secara radikal, anarkis bahkan. Al Qur’an berdebu yang biasa tertata rapi di rak buku tiba-tiba selalu,lekat dengan tagan. Masjid-masjid, selain pasar dan mall, selalu penuh sesak dengan lautan manusia. Perusahaan-perusahaan menggeber habis program CSR-nya. Sebagian orang yang tadinya risih melihat orang miskin yang mbutuhkan, tiba-tiba menjadi dermawan.

Ini semua tentu bagus. Tidak ada yang salah. Karena memang inilah salah keajaiban ramadhan. Namun, kaum dhuafa tetap harus makan walaupun bukan di bulan ramadhan. Adalah kebahagiaan ketika bisa berbagi. Kaya hakiki. [Alif]

STRATEGI PENGUMPULAN DAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT, INFAK, DAN SEDEKAH

September 7, 2009

Pendahuluan

Dalam sebuah hadits masyhur riwayat al-Ashbahani, Rasulullah SAW menyatakan:

“Sesungguhnya Alloh SWT telah mewajibkan atas hartawan muslim suatu kewajiban zakat yang dapat menanggulangi kemiskinan. Tidaklah mungkin terjadi seseorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab kebakhilan yang ada pada hartawan muslim. Ingatlah Alloh SWT akan melakukan perhitungan yang teliti dan meminta pertanggung jawaban mereka dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.”

Hadits tersebut paling tidak memberikan dua petunjuk dan isyarat. Pertama, kemiskinan dan kefakiran pada umat bukanlah semata-mata karena kemalasan mereka dalam bekerja, akan tetapi juga akibat dari pola kehidupan yang timpang, pola kehidupan yang tidak adil, dan merosotnya rasa kesetiakawanan diantara sesama umat. Dalam laporan Susan George, Lapoe dan Colin menyatakan bahwa penyebab utama kemiskinan adalah ketimpangan sosial ekonomi karena adanya sekelompok kecil orang-orang yang hidup mewah diatas penderitaan orang banyak, dan bukannya diakibatkan oleh semata-mata kelebihan jumlah penduduk. Kedua, sesungguhnya jika zakat, infak, dan sedekah dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan ditata dengan baik, baik pengambilan maupun pendistribusiannya, akan mampu menanggulangi atau  paling tidak mengurangi masalah-masalah kemiskinan dan kefakiran.

Pengertian ZIS

Zakat, secara bahasa merupakan bentukan dari kata dasar zaka yang berarti suci, bersih, berkah, tumbuh dan berkembang. Menurut terminologi syariat, zakat berarti mengeluarkan sebagian harta yang telah memenuhi syarat tertentu kepada yang berhak menerimanya (mustahik) dengan syarat tertentu pula. Harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi harta yang bersih, suci, tumbuh, dan berkembang. Membayar zakat adalah salah satu ciri mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan (QS. Al-Mukminun:4), akan mendapatkan limpahan rahmat Alloh (QS. At-Taubah:71), dan akan mendapatkan pertolongan-Nya (QS. Al-Hajj:40-41).

Kesediaan berzakat dipandang sebagai indikator utama ketundukan seseorang pada ajaran Islam (QS. At-Taubah:5 dan 11). Di dalam hadits riwayat Bukhari & Muslim dari Umar bin Khathab ditemukan penjelasan Rasulullah SAW bahwa membayar zakat adalah salah satu unsur (rukun) dari kelima rukun bangunan keislaman. Dengan demikian, ibadah zakat menjadi ma’lum min al-din adh-dharurah (diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman). Atas dasar itu, sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a menyatakan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Siapa yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya. Rasulullah SAW pernah menghukum Tsa’labah yang enggan berzakat dengan isolasi yang berkepanjangan. Tidak ada seorang sahabat pun yang mau berhubungan dengannya, meski hanya sekedar bertegur sapa. Khalifah Abu Bakar Shiddiq bertekad akan memerangi orang yang mau shalat tetapi enggan berzakat. Ketegasan sikap ini menunjukkan bahwa perbuatan meninggalkan zakat adalah suatu kedurhakaan dan bila hal ini dibiarkan, maka akan memunculkan berbagai kedurhakaan dan kemaksiatan lain.Infak, secara bahasa merupakan bentukan dari kata anfaqaa yang berarti memberikan sesuatu kepada orang lain. Dalam terminologi syariat, infak berarti mengeluarkan atau memberikan sebagian pendapatan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Infak tidak ditentukan jumlahnya (QS. Ali-Imran:134 ; Ath-Thalaq:7) dan tidak pula ditentukan secara khusus sasaran pendayagunaannya (QS. Al-Baqarah:215). Infak sangat luas sasarannya untuk semua kepentingan pembangunan umat.

Berinfak adalah ciri utama orng yang beriman dan bertaqwa (QS. Al-Baqarah:3; Ali-Imran:134), ciri mukmin yang benar-benar keimanannya (QS. Al-Anfal:3-4), dan ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan yang kekal dan abadi (QS. Faathir:29). Infak menyuburkan dan mengembangkan harta (QS. Al-Baqarah:261). Enggan berinfak sama dengan menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan kehancurannya (QS. Al-Baqarah:195)Shadaqah, secara bahasa berasal dari kata shadaqa yang artinya benar. Tersurat dari kata ini bahwa orang yang bersedekah adalah orang yang benar imannya. Secara terminologi syariat, pengertian dan hukum sedekah sama dengan infak, hanya saja sedekah tidak hanya dipergunakan pada hal-hal yang bersifat material, tetapi menyangkut semua aktivitas yang baik, yang dilakukan seorang mukmin. Berdzikir, berdakwah, membaca tasbih, tahmid, tahlil, membaca Al-Qur’an adalah termasuk sedekah.

Disamping pengertian diatas, Al-Qur’an dan As-Sunnah sering menggunakan kata-kata infak dan sedekah, tetapi yang dimaksudkan adalah zakat seperti pada surat At-Taubah:60 dan 103 (sedekah); surat At-Taubah:34 (infak).Berdasarkan ayat-ayat dan hadits tersebut diatas, yang begitu kuat mendorong orang-orang yang beriman untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mendorong umatnya untuk mampu berkerja, dan berusaha sehingga memiliki harta kekayaan yang melebihi kebutuhan-kebutuhan pokok diri dan keluarganya, untuk kemudian berlomba menjadi muzakki atau munfiq. Dalam konteks inilah perlu dikembangkan etos kewirausahaan di kalangan kaum muslimin sehingga mendorong lahirnya para usahawan muslim yang tangguh dan kuat, yang kesemuanya akan memberikan multiple effect yang luas, antara lain sebagai berikut :

  1. Menambah jumlah muzakki dan munfiq
  2. Melipatgandakan penguasaan asset dan modal di tangan umat Islam
  3. Membuka lapangan kerja yang luas
  4. Menyebarluaskan dan memasyarakatkan etika bisnis yang benar

Tujuan dan hikmah ZIS

ZIS merupakan ibadah yang mempunyai dimensi transcendental dan horizontal. ZIS memberikan banyak arti dalam kehidupan umat Islam maupun umat manusia secara keseluruhan. ZIS memiliki banyak hikmah, baik yang terkait dengan peningkatan keimanan terhadap Alloh SWT mapun peningkatan kualitas hubungan antar sesama manusia, antara lain :

  1. Sebagai perwujudan keimanan kepada Alloh SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat bakhil, kikir, dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup sekaligus menumbuhkan dan mengembangkan harta yang dimiliki.
  2. Menolong, membantu, membangun, dan membina kaum dhuafa maupun mustahik lainnya kearah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Alloh SWT, dan terhindar dari bahaya kekufuran.
  3. ZIS menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta, keseimbangan dalam pemilikan harta, dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat, sehingga diharapkan lahir masyarakat yang marhamah yang berdiri diatas prinsip ukhuwah islamiyah dan takaafu al-ijtima’i.
  4. Optimalisasi pengumpulan dan pendayagunaan ZIS

Satu hal yang perlu disadari bersama bahwa pelaksanaan ZIS (terutama zakat) bukanlah semata-mata diserahkan kepada kesadaran muzakki, akan tetapi tanggung jawab memungut an mendistribusikannya dilakukan oleh ‘amilin (Q.S At-Taubah:60 dan 103) Zakat bukan pula sekedar memberikan bantuan yang bersifat konsumtif kepada para mustahik, akan tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup para mustahik, terutama fakir miskin. Karena itu, titik berat pembahasan tentang optimalisasi pengumpulan dan pendayagunaan ZIS adalah pada peningkatan profesionalisme kerja (kesungguhan) dari amil zakat, sehingga menjadi amil zakat yang amanah, jujur, dan kapabel dalam melaksanakan tugas-tugas keamilan. Sarana dan prasarana kerja harus dipersiapkan secara memadai, demikian pula para petugasnya yang telah dilatih secara baik (Q.S Al-Mukmin:8).

Pada sisi pengumpulan, banyak aspek yang harus dilakukan, seperti aspek penyuluhan. Aspek ini menduduki fungsi kunci untuk keberhasilan pengumpulan ZIS. Karena itu, setiap sarana harus dimanfaatkan secara optimal. Mulai dari medium khutbah Jum’at, majelis taklim, surat kabar, majalah, melihat secara langsung penyaluran dan pendayagunaan ZIS, bisa juga dalam bentuk gambar, potret, tayangan televisi, da sebagainya. Ini semua akan menumbuhkan kepercayaan para muzakki. Brosur-brosur yang sifatnya praktis yang berisikan tentang al-amwal az-zakawiyah dan cara penghitungannya akan sangat membantu usaha sosialisasi ZIS. Aspek lainnya yang juga penting adalah pengumpulan dan pengolahan data muzakki di lingkungan masing-masing, setelah data terkumpul kemudian diolah untuk keperluan klarifikasi, komunikasi, korespondensi, pencocokan, penagihan, dan keperluan lainnya. Demikian pula tempat-tempat penyetoran ZIS dipersiapkan sedemikian rupa,mungkin dengan bekerjasama dengan BPRS atau BMT yang kini mulai tumbuh dan berkembang di berbagai tempat. Akhirnya, pada sisi pengumpulan perlu dipersiapkan formulir penerimaan pembayaran zakat yang baku, yang memudahkan pengontrolannya. Aspek pencatatan setoran dan pembayaran yang mudah dan transparan termasuk bagian yang penting yang perlu diperhatikan

Pada sisi penyaluran dan pendayagunaan ZIS, perlu diperhatikan kembali beberapa hal, yakni sebagai berikut :

  1. Aspek pengumpulan dan pengolahan data mustahik perlu diperhatikan terlebih dahulu, untuk menetapkan berapa jumlah mustahik yang akan mendapatkannya. Apabila jumlah mustahik cukup banyak, maka perlu dilakukan penelahaan yang seksama untuk menentukan skala prioritas. Demikian pula apabila kondisi mustahik itu beragam, misalnya disamping fakir miskin, juga terdapat mustahik lainnya.
  2. Untuk aspek penyaluran dan pendayagunaan ZIS perlu disusun dan ditaati aturan yang menjamin adanya efisiensi dengan kriteria yang jelas. Studi kelayakan objek perlu di lakukan, misalnya untuk menentukan apakah ZIS yang bersifat produktif ataukah bersifat konsumtif yang akan diberikan. Terhadap golongan fakir miskin yang digambarkan dalam Q.S Al-Baqarah: 273, mungkin yang lebih tepat adalah yang bersifat konsumtif. Demikian pula golongan fakir miskin yang cacat tubuh, yang tidak memungkinkan dia bekerja atau berusaha, atau golongan fakir miskin yang tua renta. Sementara untuk mereka yang memungkinkan untuk bekerja atau berusaha, lebih diutamakan ZIS yang bersifat produktif, untuk memberi / menambah modal usaha atau dengan meningkatkan kualitas pekerjaannya melalui pelatihan-pelatihan yang pendanaannya diambil dari dana zakat.
  3. Harus diperhatikan bahwa keberhasilan amil zakat bukan ditentukan oleh besarnya dana ZIS yang dihimpun atau didayagunakan, melainkan juga pada sejauh mana para mustahik (yang mendapatkan ZIS yang produktif) dapat meningkatkan kegiatan usaha ataupun bekerjanya. Oleh karena itu, aspek monitoring dan pembinaan perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh.
  4. Para muzakki, terutama yang kewajiban zakatnya cukup besar, tentu ingin mengetahui bagaimana pendayagunaan ZIS yang dikeluarkannya. Oleh karena itu, aspek pelaporan pertanggung jawaban perlu dihidupsuburkan. Kemampuan untuk menampilkan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pendayagunaan ZIS dengan baik akan menarik simpati dan kepercayaan lebih besar dari para muzakki.
  5. Aspek hubungan masyarakat perlu dikembangkan agar komunikasi lahir batin antara muzakki dan mustahik dapat terus dipelihara.
  6. Sebagai konsekuensi dari optimalisasi penyaluran ZIS kepada mustahik, terutama dalam rangka pengentasan kemiskinan, perlunya para fakir dan miskin bernaung dalam suatu organisasi yang mempunyai kekuatan hukum, atau pun LSM. Mereka perlu diorganisasi dengan baik, diberi latihan dan pendidikan yang diperlukan, serta diberi modal usaha agar dapat mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Melalui organisasi ini, baik latihan dan pendidikannya maupun usahanya dapat dibiayai dari dana ZIS. [Safiq Muhammadin]

ZAKAT: PENUH HIKMAH MULTIDIMENSI

September 7, 2009

Aspek kehidupan manusia terdiri dari unsur materi atau jasadiyah dan non materi atau ruhiyah. Kedua unsur ini sama sama mempunyai nilai penting untuk dipenuhi secara seimbang. Artinya kedua unsur tersebut dalam daur kehidupan manusia, berhak memperoleh peran yang sama, tanpa ada salah satu unsur yang melebihi atau mengurangi peran unsur lain. Inilah fitrah manusia yang membuktikan bahwa Islam adalah din al haq, karena Islam menganjurkan agar keduanya dapat diaplikasikan dalam proporsi yang sama dan sederajat, hingga tak melahirkan kepincangan-kepincangan. Islam mengakui kebutuhan jasadiyah dan ruhiyah, melegitimasinya, dan merekomendasikan pemenuhannya secara berimbang. Demikian jelas keistimewaan Islam, hingga dalam perintah-perintah “ritualnya” dengan mudah dijumpai kandungan materi dan ruhi, seperti dalam ibadah zakat misalnya.

Menunaikan zakat bagi seorang muslim adalah wujud penghambaan diri kepada Allah SWT, karena zakat adalah salah satu rukun Islam. Membayar zakat yang –semata-mata didorong oleh keimanan kepada Allah SWT– merupakan salah satu bukti terbebasnya manusia dari belenggu nafsu cinta dunia (hubbud dunya), karena manusia diberi rasa indah kepada harta, “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah-ladang.”(QS 3:14). Cinta pada wanita dikendalikan dengan nikah, cinta pada anak dikendalikan oleh prinsip amanah dan cinta pada harta dikendalikan oleh zakat.

Membayar zakat mendidik pribadi muslim untuk lebih ringan tangan dalam menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bagi mereka Allah menganugerahi pahala sebagaimana diungkapkan di dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang di nafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan orang yang menerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. A1-Baqarah: 262).

Selain pahala ternyata Allah juga memberikan ketenangan. Hal ini bisa tercapai karena jiwa te1ah dibersihkan dari kecenderungan yang berlebihan terhadap harta dan menyerahkan ketaatannya secara mutlak kepada Allah SWT. Zakat membersihkan harta benda orang lain yang dengan sengaja atau tak sengaja telah termasuk ke dalam harta benda kita. Seringkali dalam mengumpulkan harta benda, ada hak orang lain, termasuk harta benda yang kita peroleh karena persaingan yang tak pantas, karena kelicikan dan lain sebagainya. Akibatnya banyak orang lain yang merasa tidak ridha, sakit hati, dan iri terhadap apa yang kita peroleh, sedangkan mereka tak dapat berbuat sesuatu untuk memperjuangkannya karena banyak hal, sehingga hanya diam diam dalam penderitaan. Untuk membersihkan harta benda dari kemungkinan-kemungkinan seperti itulah, maka zakat dibayarkan.

Zakat adalah salah satu stimulus atau pemacu bagi seorang muslim untuk mencapai kesejahteraan, karena perintah zakat hanya ditujukan bagi para aghniya. Zakat membangkitkan etos kerja, mencetak muslim yang produktif, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia sia, tidak membiarkan seorang muslim untuk bermalas malasan sehingga memiliki orientasi hidup yang jelas. Perintah zakat adalah salah satu bukti bahwa Islam mengajarkan hidup layak, jauh dari kemiskinan.

Zakat mengandung semangat pembebasan yang sangat kental: Manfaat zakat segera bisa dirasakan oleh mustahik baik untuk konsumsi praktis maupun sebagai modal produksi aktif. Minimal mengurangi penderitaan hidup para mustahik sehingga mereka bisa segera_ mengakhiri rasa lapar yang menjangkit, membayar hutang-hutang mereka di warung, melunasi SPP anaknya yang sudah sekian bulan tidak terbayar, mengobati penyakit yang sudah lama diderita. Mengurai benang kusut masalah sosial, hingga tak lagi perlu ada anak manusia yang harus tidur di lorong jembatan, meminta minta belas kasih manusia di setiap lampu merah, menutup alur cerita anak jalanan agar mereka semua dapat merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam kehidupan ini.

Zakat adalah ajaran penuh hikmah, bukan semata penyerahan sebagian harta dari muzakki kepada mustahiq tanpa meninggalkan kesan dan pengaruh, tetapi ia merupakan salah satu sarana pembinaan kaum muslim untuk menjalani hidup dengan penuh kesucian, ketenangan, dan kebahagian. [Zaenurrachman]