PALING KAYA PALING BAHAGIA

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalara Allah adalah serupa dengan sebutir-benih yang; menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatagandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,”  (QS. Al-baqaral [2]  261)

Kekayaan seseorang bisa dilihat dari apa yang dimilikinya, berapa luas tanah sawah atau perkebunannya, berapa harga rumahnya, berapa jumlah mobilnya, berapa lembar sahamnya, berapa banyak isi depositonya, atau berapa jumlah total kekayaan lainnya. Namun, itu semua adalah semu. Tidak hakiki. Bisa saja semua kekayaan itu tidak bisa dinikmati, atau bisa dinikmati tetapi sangat kecil, tidak seberapa dibandinghan jerih payah untuk mendapatkannya.

Lihatlah kekayaan orang dari apa yang bisa dinafkahkannya. Seberapa besar dari hartanya yang bisa dimanfaatkan. Coba renungkan wahai saudaraku, sesungguhnya harta yang benar-benar kita miliki dan bermanfaat bagi kita adalah harta yang telah kita nafkahkan pada jalan kemanfaatan hakiki, yaitu jalan Sang Pemilik, Sang Maha Kaya, Allah SWT. Sedangkan harta yang kita simpan dan hita gunakan untuk kesenangan yang semu, sekedar melewati hidup, menghabiskan umur, itu semua hilang, tak berbekas, tak berkesan, tak berarti, sia-sia tanpa kita bisa merasakan nikmatnya harta yang bermanfaat.

Bulan kemarin atau tahun kemarin mungkin kita mendapat beasiswa, atau keuntungan usaha yang besar, atau rejeki nomplok yang tak pernah terkira. Yang kita sangat bahagia menerimanya. Dan sekarang, kemanakah harta yang kemarin begitu kita tunggu kedatangannya? Bukankah sekarang kita telah lupa dengan kebahagiaan yang kita rasakan sewaktu menerima harta tersebut?

Saudaraku, jika sekian dari harta tersebut kita sedekahkan di jalan Alloh, maka sesungguhnya hanya itulah yang benar-benar harta kita yang bermanfaat. Kita sama dengan menabungnya, dan kelak akan kita ambil setelah jatuh tempo dengan bagi hasilnya sekalian.

Jangan dikira keuntungan menabung di akhirat itu kecil? Tidak ada model investasi yang lebih menguntungkan dari menabung untuk akhirat, yaitu hingga 700%. Seperti yang Alloh janjikan dalam firmannya di QS. Al-Baqarah : 261.

Adakah yang menandingi keuntungan instrumen investasi yang Alloh tetapkan di atas? Atau kita masih ragu dan enggan untuk mengambil kesempatan itu? Sebagai perbandingan; setelah turun ayat ini shahabat nabi berlomba untuk menginfakkan hartanya.

Abdurrahman bin Auf seketika menyambut turun ayat tersebut dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah”.

“Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang enkau berikan,” j awab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lain Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan. dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Bukan yang banyak harta, atau si kaya saja berlomba untuk menafkahkan harta mereka, tapi yang pas-pasan pun tidak mau kalah dengan dengan menafkahkan sesuai kemampuannya.

Saudaraku, jangan kira kita kehilangan apa yang telah kita nafkahkan di jalan Alloh. Alloh ber berjanji dalam firmannya, “‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan mnyempitkan bagi siapa yang dikeendaki-Nya. Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”  (QS 34: 39).

Masihkah kita ragu untuk investasi pada instrumen yang  paling menguntungkan? Saudaraku, Ramadhan sudah dekat kini, bulan penuh hikmah. Bulan dilipatgandakannya segala amal. Bulan penuh. keutamaan.

Diriwayatkan dalam Shahih AlBukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata :

“nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang paling dermawan, Beliau lebih dermawan pada bulan Ramdhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Quran. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditemui Jibrii lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan tambahan: ”Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya. ”

Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Rasulullah sha11a11ahu ‘alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta “. Dalam hadist yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama termasuk sebab masuk Surga. Dinyatakan dalam hadits Ali radhiallahu `anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh di Surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luamya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. ” Maka berdirilah kepada beliau seorang Arab Badui seraya berkata: Untuk siapakah ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah? jawab beliau: “Untuk siapa saja yarg berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur. ” (HR. At-Tirmidzi dan Abuu Isa berkata, hadits ini gharib).

Ajaran sedekah sungguh ajaran mulia, penuh keistimewaan, terlebih dam bulan ramadhan penuh hikmah. Namun, ajaran ini tidak pernah dibatasi olehh dimensi waktu. Sekali-kali ajaran ini tidak hanya untuk bulan ramadhan. Kita mafhum jika pada bulan ramadhan semangat untuk beramal meningkat secara radikal, anarkis bahkan. Al Qur’an berdebu yang biasa tertata rapi di rak buku tiba-tiba selalu,lekat dengan tagan. Masjid-masjid, selain pasar dan mall, selalu penuh sesak dengan lautan manusia. Perusahaan-perusahaan menggeber habis program CSR-nya. Sebagian orang yang tadinya risih melihat orang miskin yang mbutuhkan, tiba-tiba menjadi dermawan.

Ini semua tentu bagus. Tidak ada yang salah. Karena memang inilah salah keajaiban ramadhan. Namun, kaum dhuafa tetap harus makan walaupun bukan di bulan ramadhan. Adalah kebahagiaan ketika bisa berbagi. Kaya hakiki. [Alif]

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: