ZAKAT: PENUH HIKMAH MULTIDIMENSI

Aspek kehidupan manusia terdiri dari unsur materi atau jasadiyah dan non materi atau ruhiyah. Kedua unsur ini sama sama mempunyai nilai penting untuk dipenuhi secara seimbang. Artinya kedua unsur tersebut dalam daur kehidupan manusia, berhak memperoleh peran yang sama, tanpa ada salah satu unsur yang melebihi atau mengurangi peran unsur lain. Inilah fitrah manusia yang membuktikan bahwa Islam adalah din al haq, karena Islam menganjurkan agar keduanya dapat diaplikasikan dalam proporsi yang sama dan sederajat, hingga tak melahirkan kepincangan-kepincangan. Islam mengakui kebutuhan jasadiyah dan ruhiyah, melegitimasinya, dan merekomendasikan pemenuhannya secara berimbang. Demikian jelas keistimewaan Islam, hingga dalam perintah-perintah “ritualnya” dengan mudah dijumpai kandungan materi dan ruhi, seperti dalam ibadah zakat misalnya.

Menunaikan zakat bagi seorang muslim adalah wujud penghambaan diri kepada Allah SWT, karena zakat adalah salah satu rukun Islam. Membayar zakat yang –semata-mata didorong oleh keimanan kepada Allah SWT– merupakan salah satu bukti terbebasnya manusia dari belenggu nafsu cinta dunia (hubbud dunya), karena manusia diberi rasa indah kepada harta, “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah-ladang.”(QS 3:14). Cinta pada wanita dikendalikan dengan nikah, cinta pada anak dikendalikan oleh prinsip amanah dan cinta pada harta dikendalikan oleh zakat.

Membayar zakat mendidik pribadi muslim untuk lebih ringan tangan dalam menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bagi mereka Allah menganugerahi pahala sebagaimana diungkapkan di dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang di nafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan orang yang menerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. A1-Baqarah: 262).

Selain pahala ternyata Allah juga memberikan ketenangan. Hal ini bisa tercapai karena jiwa te1ah dibersihkan dari kecenderungan yang berlebihan terhadap harta dan menyerahkan ketaatannya secara mutlak kepada Allah SWT. Zakat membersihkan harta benda orang lain yang dengan sengaja atau tak sengaja telah termasuk ke dalam harta benda kita. Seringkali dalam mengumpulkan harta benda, ada hak orang lain, termasuk harta benda yang kita peroleh karena persaingan yang tak pantas, karena kelicikan dan lain sebagainya. Akibatnya banyak orang lain yang merasa tidak ridha, sakit hati, dan iri terhadap apa yang kita peroleh, sedangkan mereka tak dapat berbuat sesuatu untuk memperjuangkannya karena banyak hal, sehingga hanya diam diam dalam penderitaan. Untuk membersihkan harta benda dari kemungkinan-kemungkinan seperti itulah, maka zakat dibayarkan.

Zakat adalah salah satu stimulus atau pemacu bagi seorang muslim untuk mencapai kesejahteraan, karena perintah zakat hanya ditujukan bagi para aghniya. Zakat membangkitkan etos kerja, mencetak muslim yang produktif, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia sia, tidak membiarkan seorang muslim untuk bermalas malasan sehingga memiliki orientasi hidup yang jelas. Perintah zakat adalah salah satu bukti bahwa Islam mengajarkan hidup layak, jauh dari kemiskinan.

Zakat mengandung semangat pembebasan yang sangat kental: Manfaat zakat segera bisa dirasakan oleh mustahik baik untuk konsumsi praktis maupun sebagai modal produksi aktif. Minimal mengurangi penderitaan hidup para mustahik sehingga mereka bisa segera_ mengakhiri rasa lapar yang menjangkit, membayar hutang-hutang mereka di warung, melunasi SPP anaknya yang sudah sekian bulan tidak terbayar, mengobati penyakit yang sudah lama diderita. Mengurai benang kusut masalah sosial, hingga tak lagi perlu ada anak manusia yang harus tidur di lorong jembatan, meminta minta belas kasih manusia di setiap lampu merah, menutup alur cerita anak jalanan agar mereka semua dapat merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam kehidupan ini.

Zakat adalah ajaran penuh hikmah, bukan semata penyerahan sebagian harta dari muzakki kepada mustahiq tanpa meninggalkan kesan dan pengaruh, tetapi ia merupakan salah satu sarana pembinaan kaum muslim untuk menjalani hidup dengan penuh kesucian, ketenangan, dan kebahagian. [Zaenurrachman]

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: